11
Dec
15

Pengantar ke Dunia Audit atas Laporan Keuangan (Sebuah Ringkasan)

Pengantar

Meskipun manusia dapat berencana, Tuhan lah yang menentukan. Dan hidup yang dijalani akan membawa diri ke keadaan yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya, yang tidak terduga, suatu petualangan. Hidup adalah suatu yang tiba-tiba dimiliki, tetapi pilihan yang tersedia hanyalah terus melangkah ke depan, terus mempertahankan semangat, mencari jalan, mencari tujuan yang bernilai, dengan menikmati setiap langkah yang semoga bermakna.

Begitupun Auditing datang menjadi jalan hidupku, entah bagaimana aku masuk ke dalamnya. Berbagai “kebetulan” kecil menjadi jalan yang tak tahu pula kelak akan membawaku kemana. Kadang kunikmati dan kadang hatiku memberontak akan perasaan “ketidak-ideal-an” jalan hidup ini. Apakah semua ini cukup bermakna untuk terus kujalani? Hanya saja pada saat ini, aku ingin merefleksikan kembali apa yang ada. Sambil mencari inspirasi dan semoga memberi kesadaran lebih akan jalan hidup ini…

Dan akupun memulai dengan menyusun kembali sejak awal pengetahuan tentang dunia audit ini dengan me-resume sebuat buku berjudul “Auditing dan Jasa Assurance (Pendekatan Terintegrasi), Jilid I” karangan Alvin A Arens, Randal J. Elder, dan Mark S. Beasley. Buku ini merupakan buku pegangan ketika kuliah dulu. Sebuah upaya untuk menulis sambil mengenang nikmatnya suasana belajar dulu…

Auditing

Auditing adalah pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi itu dan kriteria yang telah ditetapkan. Salah satu jenis informasi tersebut adalah Laporan Keuangan. Auditing berbeda dengan Akuntansi meskipun keduanya berhubungan. Akuntansi (orangnya disebut Akuntan) merupakan proses pencatatan, pengklasifikasian, dan pengikhtisaran peristiwa-peristiwa ekonomi dengan cara yang logis yang bertujuan menyediakan informasi keuangan untuk mengambil keputusan. Informasi keuangan ini kemudian diperiksa dalam proses Auditing (orangnya disebut Auditor) untuk menentukan apakah informasi keuangan tersebut telah dibuat sesuai dengan ketentuan (standar). Oleh karena itu, selain harus memahami akuntansi, Auditor juga harus memiliki keahlian untuk mengumpulkan dan menginterpretasikan bukti audit.

Mengapa Auditing diperlukan?

Pihak-pihak di luar perusahaan (seperti Bank, pemerintah, pemegang saham, dll) memerlukan informasi untuk pengambilan keputusan. Informasi yang disediakan oleh perusahaan (dalam bentuk Laporan Keuangan) memiliki risiko tidak akurat (bias) karena adanya motif tertentu dari Perusahaan seperti mencari keuntungan sendiri. Oleh karena itu, informasi yang disediakan perusahaan perlu untuk diverifikasi.

Mengingat setiap pemakai informasi tidak bisa secara langsung memverifikasi Laporan Keuangan, data informasi yang sangat banyak, serta transaksi yang kompleks maka diperlukan pihak tertentu yang independen sebagai wakil pemakai keuangan memverifikasi informasi keuangan tersebut dan bertanggung jawab atas kewajaran informasi yang disampaikan perusahaan. Wakil tersebut adalah Auditor. Oleh karena itu, hubungan kepercayaan para pemakai Laporan Keuangan kepada Auditor sangat penting dan harus dipelihara oleh Auditor dengan pelaksanaan audit yang profesional.

Tanggung Jawab Auditor

Auditor tidak bertanggung jawab atas seluruh Laporan Keuangan. Manajemen memiliki tanggung jawab untuk mengadopsi kebijakan akuntansi yang baik, menyelenggarakan pengendalian internal yang memadai, dan menyajikan laporan keuangan yang wajar. Sedangkan Auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh kepastian yang layak tentang apakah Laporan Keuangan telah bebas dari salah saji yang material, apakah itu disebabkan kekeliruan maupun kecurangan.

Auditor hanya dapat memberikan kepastian yang layak (tidak absolut) bahwa salah saji material dapat dideteksi mengingat sifat bukti audit dan karakteristik kecurangan. Atas salah saji yang tidak material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan ataupun kecurangan, tidak termasuk dalam tanggung jawab Auditor.

Mengapa Auditor tidak dapat memberi kepastian secara absolut? Hal ini karena:

  • Sebagian besar bukti audit diperoleh dari pengujian sampel populasi;
  • Penyajian akuntansi mengandung estimasi yang kompleks, melibatkan sejumlah ketidakpastian, dan dapat dipengaruhi peristiwa di masa depan; dan
  • Laporan Keuangan yang disusun dengan penuh kecurangan seringkali sangat sulit diseteksi auditor terutama bila ada kolusi di kalangan manajemen perusahaan.

Standar Audit

Untuk membantu Auditor memenuhi tanggung jawab profesionalnya dalam audit atas Laporan Keuangan historis, dibuat Standar Auditing yang memuat persyaratan seperti kompetensi dan independensi, persyaratan pelaporan, dan bukti sebagai berikut.

  1. Standar Umum, meliputi keharusan Auditor telah mengikuti pelatihan dan kecakapan yang memadai, independen dalam sikap mental, dan menggunakan kemahiran profesionalnya dalam seluruh tahapan audit.
  2. Standar Pekerjaan Lapangan, meliputi keharusan auditor untuk membuat perencanaan dan mensupervisi para staf, memiliki pemahaman yang memadai atas entitas dan pengendalian internalnya, dan memperoleh bukti yang cukup dan tepat untuk memberikan pendapat.
  3. Standar Pelaporan, meliputi keharusan menyatakan dalam laporan audit menganai apakah laporan keuangan telah disusun sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum, mengidentifikasi keadaan yang tidak konsisten dengan periode sebelumnya, menyatakan apakah pengungkapan informasi telah memadai, dan menyatakan pendapat mengenai laporan keuangan.

Kepatuhan akan standar audit ini sangat penting yang akan menjadi pembelaan utama ketika terjadi gugatan atas Laporan Audit yang dikeluarkan oleh Auditor.

Jenis Laporan Audit

Laporan audit merupakan sarana untuk mengkomunikasikan temuan sebagai tahap akhir dari keseluruhan proses audit. Jenis laporan audit beserta kondisi yang mempengaruhi adalah sebagai berikut.

  1. Laporan audit Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)

Laporan audit ini diterbitkan apabila:

  • Semua laporan sudah termasuk dalam Laporan Keuangan;
  • Standar umum audit dapat diterapkan;
  • Bukti yang cukup terkumpul dan standar pelaksanaan terpenuhi;
  • Laporan Keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum; dan
  • Tidak terdapat situasi yang membuat auditor perlu menambahkan paragraf penjelas.
  1. Laporan audit wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan (Unqualified Opinion with explanatory language)

Memenuhi kriteria audit yang lengkap dan hasil yang memuaskan dan Laporan Keuangan disajikan secara wajar, tetapi auditor merasa penting atau wajib memberikan informasi tambahan karena:

  • Tidak adanya aplikasi yang konsisten dari prinsip akuntansi yang berlaku umum;
  • Keraguan akan going concern;
  • Auditor setuju dengan penyimpangan prinsip akuntansi;
  • Penekanan pada suatu hal atau masalah; atau
  • Laporan yang melibatkan auditor lain.

Penyimpangan dari laporan audit Wajar Tanpa Pengecualian, sebagai berikut:

  1. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)

Auditor menyimpulkan bahwa Laporan Keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar tetapi terdapat kualifikasi atau pengecualian tertentu yang disebabkan pembatasan ruang lingkup atau kelalaian dalam mematuhi prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.

  1. Pendapat tidak wajar (Adverse Opinion)

Apabila auditor yakin bahwa Laporan Keuangan secara keseluruhan mengandung salah saji yang material atau menyesatkan sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan atau hasil operasi dan arus kas sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.

  1. Menolak memberikan pendapat (Disclaimer of Opinion)

Auditor tidak dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa Laporan Keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar. Hal ini antara lain karena adanya pembatasan ruang lingkup atau Auditor tidak independen.

Proses Pengambilan Keputusan

Dalam proses pengambilan keputusan jenis laporan yang akan diterbitkan, pertama Auditor harus menilai apakah ada kondisi yang memerlukan penyimpangan dari laporan Wajar Tanpa Pengecualian. Jika ada kondisi tersebut, Auditor kemudian harus menilai materialitas kondisi tersebut dan menentukan jenis laporan audit yang tepat. Materialitas disini merupakan suatu salah saji dalam Laporan Keuangan yang dapat dianggap material jika pengetahuan akan salah saji tersebut akan mempengaruhi keputusan pemakai keuangan. Tabel berikut digunakan sebagai panduan pengambilan keputusan:

bagan 3

bagan 4
Tujuan Audit

Auditor melaksanakan audit atas Laporan Keuangan dengan pendekatan siklus, yaitu melakukan pengujian audit atas transaksi-transaksi yang menghasilkan saldo akhir dan juga melaksanakan pengujian audit atas saldo akun serta pengungkapan yang terkait. Cara yang paling efektif dan efisien untuk melakukan audit adalah dengan memperoleh beberapa kombinasi kepastian bagi setiap kelas transaksi dan saldo akhir pada akun yang terkait. Oleh karena itu, terdapat 3 tujuan audit, yaitu:

  1. Tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi;
  2. Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo; dan
  3. Tujuan audit yang berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan.

Auditor harus memperoleh bukti audit yang mencukupi guna mendukung semua asersi manajemen dalam Laporan Keuangan. Kecukupan bukti dapat digambarkan sebagai berikut.

bagan 1

Asersi Manajemen

Asersi manajemen merupakan representasi pernyataan yang tersirat atau diekspresikan oleh manajemen tentang kelas transaksi dan akun serta pengungkapan yang terkait dalam laporan keuangan. Asersi manajemen berkaitan langsung dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum karena asersi ini merupakan bagian dari kriteria yang digunakan manajemen untuk mencatat dan mengungkapkan informasi akuntansi dalam Laporan Keuangan. Asersi manajemen diklasifikasikan sebagai berikut.

bagan 5

Bukti Audit

Dalam audit, bukti adalah yang bagian penting yang dicari oleh auditor. Bukti disini merupakan setiap informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang diaudit telah dinyatakan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Keputusan penting auditor adalah menentukan jenis dan jumlah bukti yang tepat. Untuk itu, terdapat 4 keputusan mengenai bukti yang harus dibuat oleh Auditor, yaitu:

  1. Prosedur audit apa yang akan digunakan?
  2. Berapa ukuran sampel yang akan dipilih untuk prosedur tersebut?
  3. Item-item mana yang akan dipilih dari populasi?
  4. Kapan melaksanakan prosedur tersebut?

 

Auditing Kecurangan

Dalam konteks audit atas Laporan Keuangan, kecurangan merupakan salah saji laporan keuangan yang disengaja. Kategori kecurangan yang terkait dalam audit atas Laporan Keuangan ada 2, yaitu:

  1. Pelaporan keuangan yang curang (fraudulent financial statement), merupakan salah saji atau pengabaian jumlah atau pengungkapan yang disengaja dengan maksud untuk menipu para pemakai laporan keuangan.
  2. Penyalahgunaan aset (asset missapropriation), merupakan kecurangan yang melibatkan pencurian aktiva tetap

Standar memberikan pedoman bagi auditor untuk menilai risiko kecurangan yaitu dengan mempertahankan tingkat skepetisme profesional ketika mempertimbangkan serangkaian informasi yang luas, termasuk faktor-faktor risiko kecurangan, untuk mengidentifikasi dan menanggapi risiko kecurangan.

Skpetisme profesional merupakan sikap  Auditor yang tidak mengasumsikan bahwa manajemen tidak jujur tetapi juga tidak mengasumsikan kejujuran absolut. Dalam skeptisme profesional, Auditor diharuskan untuk mempertahankan pikiran yang selalu mempertanyakan selama audit berlangsung dan melakukan evaluasi kritis atas bukti audit.

Apabila kecurangan dicurigai ada, auditor harus mengumpulkan informasi tambahan untuk menentukan apakah kecurangan itu memang ada.

Proses Audit Secara Keseluruhan

Secara umum, fase Audit atas Laporan Keuangan ada 4, yaitu:

  1. Merencanakan dan merancang pendekatan audit (Fase I)
  2. Melaksanakan pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi (Fase II)
  3. Melaksanakan prosedur analitis dan pengujian rincian saldo (Fase III)
  4. Menyelesaikan audit dan mengeluarkan Laporan Audit (Fase IV)

Adapun secara ringkas, seluruh proses Audit atas Laporan Keuangan dapat diringkas sebagai berikut.

bagan 2

 

 

Referensi:

Arens, Alvin. A., Elder, dan Beasley. 2008. “Auditing dan Jasa Assurance Pendekatan Terintegrasi Jilid 1”. Edisi kedua belas. Jakarta: Erlangga.

 


0 Responses to “Pengantar ke Dunia Audit atas Laporan Keuangan (Sebuah Ringkasan)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: