12
Feb
12

Teori Cinta Erich Fromm

Mungkin terdengar sentimentil dan kekanakkan untuk membahas tema seperti ini. Tema-tema yang sepertinya hanya cocok untuk kalangan muda, meski aku belum tua juga sih. Hehe.. Namun yang aku tahu, tema ini tetap relevan bagi siapa saja, baik yang masih dalam “pencarian” objek cinta maupun yang sudah menemukan. Mengapa? Karena cinta adalah masalah kualitas kepribadian yang melekat pada diri manusia selama kehidupannya. Baik ketika masih sebagai anak, remaja, dewasa, orang tua, manusia selalu terlibat dengan hubungan cinta. Tinggal selanjutnya ditanyakan: apakah hubungan cinta yang dimilikinya sudah cukup berkualitas?

Salah satu buku favorit ku yang membahas tentang cinta adalah buku The Art of Loving – nya Erich Fromm. Entah sudah berapa kali aku membeli buku itu, baik karena dipinjam teman tapi tidak kembali atau membelikan untuk orang lain agar ikut “menikmati” renungan cinta di dalamnya. Buku itu membahas cinta secara rasional, yang memandang cinta sebagai jawaban atas problem eksistensi manusia. Secara positif, Erich Fromm melihat cinta sebagai persoalan kemampuan yang selalu mensyaratkan adanya kedewasaan dan upaya pengembangan totalitas kepribadian. Cinta dipandang sebagai seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan. Ide ini menurutku adalah ide yang memberdayakan dan membuatku membedakannya dengan hubungan yang diklaim dilandasi oleh cinta tetapi sebenarnya hanya egoisme diri semata karena sifatnya yang pasif dan “pelarian diri” dari masalah yang dihadapi.

Disini aku hanya meresume apa yang aku baca dan pahami dalam buku The Art of Loving. Harapannya, dengan menuliskan, aku dapat lebih “mengendapkan” apa yang aku baca dan lebih memudahkan bagiku mereviu kembali pemikiranku dalam perkembangan selanjutnya.

Menurut Erich Fromm, cinta adalah jawaban atas problem eksistensi manusia. Problem apa? Problem keterpisahan manusia. Problem ini timbul karena manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang memiliki akal budi, sebagai makhluk yang sadar akan dirinya. Manusia sadar akan dirinya sebagai individu yang terpisah dan hidup dalam ketidakpastian di dunia ini. Manusia sadar bahwa dirinya dilahirkan di luar kemauannya dan akan mati di luar keinginannya. Manusia sadar akan kelemahannya menghadapi kekuatan-kekuatan alam dan masyarakat. Hal-hal ini menjadi sumber kecemasan yang luar biasa sehingga kebutuhan untuk mengatasi keterpisahan dan keluar dari penjara kesendirian, serta mengadakan hubungan dengan manusia lain atau dunia luar menjadi kebutuhan terdalam manusia.

Sejarah umat manusia telah menunjukkan usaha-usaha manusia mengatasi problem eksistensial ini. Jawaban yang ditawarkan antara lain adalah seperti penenggelaman diri dalam kegiatan orgiastik, alkoholisme, komformitas kelompok, dan tindakan kreatif. Menurut Erich Fromm, kegiatan-kegiatan tersebut memang dapat mengatasi rasa keterpisahan, tetapi sifatnya sementara dan parsial. Jawaban yang lengkap untuk mengatasi problem eksistensial untuk pencapaian kesatuan interpersonal yang diharapkan adalah dengan apa yang sering disebut sebagai cinta.

Cinta yang bagaimana yang merupakan jawaban problem eksistensial itu? Menurut Erich Fromm, cinta tersebut haruslah merupakan hubungan kesatuan dengan sesuatu atau seseorang di bawah kondisi saling tetap mempertahankan integritas dan individualitas masing-masing. Cinta ini berbeda dengan bentuk-bentuk cinta yang tidak dewasa yang disebut kesatuan simbiosis yang merupakan peleburan diri tanpa integritas dimana terjadi “ketergantungan” yang membuat seseorang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Untuk dapat mempertahankan integritas dan individualitas, seseorang mesti memiliki kedewasaan dalam mencintai.

Untuk memahami cinta yang dewasa, pertama-tama perlu dipahami bahwa cinta merupakan sebentuk “aktivitas” yang mensyaratkan adanya kebebasan. Dalam mencintai, manusia haruslah menyadari objek motivasinya. Motivasi yang berupa nafsu seperti rasa iri, cemburu, hasrat, dan segala bentuk ketamakan akan membuat manusia berada dalam kondisi “dikendalikan”. Manusia harus membebaskan dari semua ini, menjadi seorang yang aktif, dan menjadi tuan dari kemauan-kemauannya sendiri. Karakter aktif dari cinta dijelaskan dalam pernyataan bahwa cinta pertama-tama adalah persoalan memberi, bukan menerima. Kemampuan mencintai sebagai tindakan memberi berarti seseorang telah mampu mengatasi ketergantungan dan kuasa narsistiknya, sebentuk keinginan untuk mengeksploitasi atau menimbun, sehingga tidak takut untuk memberikan dirinya dan tidak takut untuk mencintai. Bagi orang dengan karakter produktif, tindakan memberi adalah bentuk ekspresi tertinggi dari potensi yang ada di dalam diri mereka. Memberi telah menjadi tindakan yang lebih memuaskan dan lebih menggembirakan ketimbang menerima dan mencintai juga menjadi sesuatu yang lebih penting ketimbang dicintai.

Cinta juga selalu memuat elemen dasar tertentu berupa perhatian, tanggung jawab, penghargaan, serta pemahaman. Cinta memuat perhatian (care) berarti bahwa dalam mencintai, kita haruslah memberikan perhatian aktif terhadap kehidupan serta perkembangan dari yang kita cintai. Hal ini tampak jelas misalnya dalam cinta ibu terhadap anaknya. Klaim bahwa ibu mencintai anaknya akan diragukan jika ibu tersebut terlihat tidak peduli dan mengabaikan anaknya. Hakikat cinta adalah berusaha demi sesuatu dan membuat sesuatu itu tumbuh.

Aspek selanjutnya dari cinta adalah tanggung jawab (responsibility). Bertanggung jawab disini berarti mampu dan siap untuk “merespon”. Maksudnya adalah bahwa kehidupan yang kita cintai bukan hanya menjadi persoalan dirinya, tetapi juga merupakan persoalan kita, tanggung jawab kita. Kita ikut bertanggung jawab atas kehidupan orang yang kita cintai sebagaimana kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri.

Tanggung jawab dapat menjadi dominasi dan pemilikan jika tidak disertai komponen yang ketiga, yaitu penghargaan (respect). Penghargaan disini berarti kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, dengan menyadari segala keunikan yang ada dalam diri orang tersebut. Penghargaan berarti memperhatikan orang lain agar dia tumbuh dan berkembangan sesuai dengan dirinya sendiri. Sosok yang dicintai dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri dan demi kepentingannya sendiri, bukan dipaksa berkembang demi hasrat dan ambisi orang yang mencintai. Jika kita mencintai, kita merasa menyatu dengan orang tersebut seperti apa adanya.

Untuk dapat melakukan ketiga aspek sebelumnya dengan baik, cinta juga harus memiliki aspek yang keempat, yaitu pemahaman atau pengetahuan (knowledge). Pemahaman disini adalah pemahaman yang mendalam yang sanggup menembus inti persoalan. Pemahaman semacam ini hanya mungkin jika kita dapat melampauhi perhatian atas diri sendiri untuk kemudian melihat orang lain sesuai dengan konteksnya sendiri. Dalam cinta, kita hanya bisa mengetahui lewat pemahaman atas apa yang hidup dalam diri manusia – dengan cara mengalami kesatuan, bukan melalui pengetahuan yang diberikan oleh pikiran.

Elemen-elemen cinta di atas, perhatian, tanggung jawab, penghargaan, dan pemahaman, merupakan elemen yang saling terkait dan hanya bisa dilakukan oleh pribadi-pribadi yang matang, yang mampu mengembangkan kekuatan manusiawinya secara produktif, pribadi yang hanya mau memiliki apa yang dia usahakan sendiri, pribadi yang telah mencapai kerendahan hati yang bersumber dari kekuatan batin.

Hal lain yang ditekankan oleh Erich Fromm dalam cinta adalah bahwa cinta bukan soal hubungan dengan seseorang atau sesuatu, tetapi merupakan suatu orientasi karakter yang menentukan hubungan seseorang dengan dunia secara keseluruhan – bukan hanya terhadap objek tertentu. Cinta tidak dapat dilepaskan dari wilayah sosial. Jika kita mencintai seseorang tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain, maka hal itu tidak layak disebut cinta melainkan hanya suatu ikatan simbiosis atau sebentuk egoisme yang diperluas. Jika kita benar-benar mencintai seseorang, maka kita mesti mencintai semua orang, mencintai dunia ini, mencintai kehidupan. Tanpa hal tersebut, maka problem keterpisahan akan tetap ada karena meskipun kita memperoleh pengalaman mengatasi keterpisahan, karena kita sendiri terpisah dari orang lain maka kitapun tetap saling terpisah dan terasing dari diri kita sendiri.

Jurangmangu Timur, 12 Februari 2012

Referensi:

Fromm, Erich. 2008. The Art of Loving. Jakarta: Fresh Book.


3 Responses to “Teori Cinta Erich Fromm”


  1. 1 etik darul muslikah
    April 26, 2012 at 6:07 am

    sangat menginspirasi ^_^

  2. 2 Fayaz
    October 26, 2012 at 11:04 pm

    Waauw… ^_*

  3. June 9, 2015 at 12:58 pm

    Terimakasih… Saya jadi lebih paham dan penyampaian dalam artikel ini lebih mudah dimengerti daripada bukunya hahaha terimakasihhh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: