05
Mar
10

Tentang Pernikahan dan Hal-Hal di Sekitarnya (Suatu Pendapat Pribadi)

Kepada setiap orang yang sudah menikah, aku menyampaikan rasa salut kepada mereka. Keputusan untuk menikah adalah sesuatu yang mengandung konsekuensi besar, oleh karena itu dibutuhkan keberanian untuk memutuskannya. Mereka yang telah berani mengambil keputusan itu dengan menghadapinya (bukannya melarikan diri darinya) adalah orang yang berani, karena itu aku salut kepada mereka. Begitulah kurasakan setiap kali ada orang yang menikah, terlebih jika mereka adalah temanku sendiri. Kuucapkan selamat dengan rasa takjub…

Sebagai orang yang belum menikah, aku hanya bisa mengira-ira apa yang ada dalam hubungan pernikahan dan aku merasa bahwa pernikahan memang benar-benar adalah suatu peluang atau potensi yang besar dan menarik. Suatu potensi untuk mengubah keadaan hidup bagi para pelakunya termasuk juga bagi orang lain di sekitarnya (misal keluarga). Walaupun perubahan yang terjadi bisa ke arah positif dan juga bisa ke arah negatif, aku merasa bahwa lebih banyak hal positif yang berpeluang muncul dari sana. Perubahan positif yang sering kulihat pada orang yang menikah diantaranya adalah ketenangan diri, keteraturan hidup, rasa tanggung jawab pribadi, kebermaknaan hidup karena tujuan hidup yang semakin jelas, dan kedewasaan diri berkat kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapinya.

Hidup dalam pernikahan kupikir bukan hal yang mudah. Sulit dan berat kulihat. Bagaimana seseorang mesti menerima adanya orang lain. Bagaimana seseorang dituntut untuk peduli, menghargai, menghormati, dan berkorban demi orang lain. Bagaimana seseorang harus belajar untuk mengesampingkan kepentingannya sendiri/egoisme demi yang lain. Bagaimana menjalani hidup bermasyarakat dengan keluarga “lain”, dengan tetangga, dengan lingkungan sosial. Lebih lagi bagaimana bila menjadi ayah atau ibu bagi anak -dimana diri ini akan dilihat oleh anak, akan ditiru, dan akan dinilai-: Akan bisa banggakah anak mempunyai ayah dan ibu seperti kita?

Pernikahan adalah keputusan yang akan berdampak besar dan dibutuhkan keberanian untuk siap menanggung resiko masa depan. Bagaimana bila ternyata kehidupan pernikahan tidak seindah yang dibayangkan sebelumnya? Benarkah bahwa pasangan yang kita pilih adalah orang yang tepat? Tak ada rumus yang pasti untuk menghitung hal ini. Ini adalah masalah subjektivitas: bagaimana seseorang merasa yakin akan sesuatu dan mengimaninya sebagai kebenaran. Bagaimana seseorang menyakini bahwa “Ya, dia adalah pasangan sejatiku”, walaupun ketidakpastian menghadang. Berbagai pertimbangan dan perhitungan bisa dilakukan, tetapi tetap tidak akan ada kepastian objektif. Selalu ada celah yang hanya bisa dijembatani dengan keyakinan pribadi.

Kapan pernikahan sebaiknya berlangsung?

Pertanyaan tentang kapan menikah sering dilontarkan padaku. Dan aku tak selalu dapat menjelaskan alasan kenapa pernikahan tersebut belum kujalani. Mungkin aku masih termasuk yang belum berani untuk mengambil resiko pernikahan itu meski kuyakin bahwa pernikahan itu sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Bukankah demikian juga anjuran dalam agama Islam? Walaupun pernikahan bisa berhukum sunnah, wajib, mubah, bahkan haram tergantung dari kondisi yang melingkupinya.

Aku tidak sependapat bila pernikahan dipertimbangkan hanya dengan segi umur, misal minimal 25 tahun. Umur jelas tidak selalu menggambarkan kondisi seseorang dan kesiapan serta kemampuan seseorang dalam menjalani pernikahan. Aku melihat banyak temanku yang walaupun menikah dalam umur di bawah itu, tetap dapat menjalani pernikahan dengan baik dan dewasa. Aspek kesiapan memang kadang berhubungan dengan umur, tapi tidak selalu. Aspek mental, sikap, dan pengetahuan hidup yang diperlukan tidak selalu berbanding lurus dengan segi umur. Tapi aku tetap berpikir bahwa terdapat kondisi tertentu yang sebaiknya dimiliki sebelum memasuki pernikahan, walaupun sampai sekarang aku tak mampu juga merumuskannya secara jelas. Disini aku hanya mencoba mengomentari hal-hal yang kadang disebut-sebut orang sebagai hal yang perlu dimiliki sebelum pernikahan, yaitu kedewasaan dan kemapanan.

Terkait dengan kedewasaan, aku berpikir bahwa kadang orang terlalu menunggu untuk dewasa sebelum menikah. Padahal sebagimana diketahui bersama, kedewasaan itu berkembang seiring dengan kesulitan hidup yang dihadapi sehingga justru kedewasaan itu dapat dikembangkan seiring dengan pernikahan itu sendiri. Kupikir untuk menikah, tak perlulah terlalu dewasa terlebih dahulu (sehingga kadang menjadi lamanya penantian). Yang diperlukan menurutku adalah “kesiapan mental” dalam arti luas, yaitu bagaimana seseorang “merasa” siap dan mampu untuk menghadapi apapun di masa depan secara bertanggung jawab.

Terkait kecukupan kemapanan, aku tak tahu seberapa mapan itu diperlukan yang biasanya dihubungkan dengan pekerjaan dan materi. Aku masih sering berpikir dan percaya terhadap kalimat dalam Al Qur’an yang menyebutkan: “Dan nikahkanlah…… Jika mereka miskin, maka Alloh akan memampukan mereka dengan karunia-Nya” (An-Nur: 32). Mungkin dapat dilogikakan bahwa pernikahan akan memberi seseorang rasa tanggung jawab dan keberanian sehingga dapat lebih serius dalam mencari rezeki yang membawanya kepada keberhasilan dan kesuksesan itu. Jadi, aku berpikir bahwa aspek materi walaupun diperlukan tidaklah terlalu menghalangi seseorang untuk menikah. Aku melihat banyak orang yang tidak mampu menikah, memiliki banyak anak, dan tetap dapat hidup. Aku berpikir bahwa Tuhan pastilah tidak akan lupa dalam membagi rezeki terhadap setiap makhluk-Nya.

Memang semua itu tidaklah semudah yang dikatakan. Aku sendiri juga belum mampu untuk mempraktekannya sendiri, meskipun aku ingin juga dapat segera menikah. Disini aku hanya berpikir bahwa bagiku sendiri, teori semacam ini dapat setidak-tidaknya membantuku untuk meyakinkan diriku sendiri untuk dapat segera melakukan apa yang kuharapkan tersebut. Kuharap dapat dimudahkan Tuhan untuk itu.

Tentang Hubungan “Pacaran”

Apakah sebelum pernikahan perlu persiapan dengan menjalin suatu hubungan berupa hubungan lawan jenis yang disebut “pacaran”? (atau nama apapun yang intinya sama: teman jalan bareng, hubungan pra nikah, dll). Sebenarnya rasanya akan panjang bagiku untuk membahas hal yang satu ini. Tapi secara ringkasnya, aku masih berpikir bahwa pernikahan tidaklah mensyaratkan suatu hubungan semacam itu. Terlalu banyak hal negatif dalam hubungan pacaran yang kulihat dan kurasakan (aku pernah melakukannya hingga akhirnya memutuskan untuk tidak). Meskipun aku pernah mencoba untuk menjalani hubungan pacaran sesehat dan sepositif mungkin sebisaku (menjauhi tindakan berduaan, sentuhan, pembicaraan mesra, dll), aku tetap berpikir bahwa hal itu tidak bisa menjadi pengecualian dari pandanganku secara umum terhadap hubungan pacaran. Aku menghormati setiap orang yang menjalaninya dan tidak akan mengganggu atau mencegahnya. Aku juga melihat ada pasangan yang bisa menjalani hubungan semacam itu secara baik. Masing-masing orang memiliki alasan dan pertimbangan terbaiknya sendiri. Hanya saja, secara umum aku berpendapat begini dan akupun mengambil pilihan begini bagi diriku sendiri: bahwa hubungan pacaran itu tidak baik bila tidak disebut sebagai larangan menurut ajaran Islam yang kuketahui.

Alasan pertimbanganku adalah pertama kegiatan dalam pacaran cenderung masuk dalam apa yang dilarang dalam agama Islam seperti berduaan, bersentuhan lawan jenis, dan zina (pandangan, dll). Dalam buku yang pernah kubaca, disebutkan bahwa tidaklah pantas bagi seseorang untuk merasa yakin mampu menahan diri dalam kondisi yang rawan terjerumus ke dalam hal yang negatif. Ajaran Islam secara preventif melindungi manusia terjatuh ke dalam hal yang tidak baik. Alasan kedua, kulihat semakin banyak orang yang hamil di luar nikah. Beberapa teman yang kupikir cukup kuat imanpun kuketahui telah terlalu jauh dalam hubungan pacaran yang dilakukannya. Apalagi pada orang yang tidak kuat iman dan hanya mencari kesenangan atau kepuasan hidup saja? Yang hanya merasa kesepian namun tidak berani menikah sehingga mencari alternatif pemuasan sesaat dan kemudian menghindari tanggung jawab? Akupun merasa kasihan dimana pihak perempuan seringkali lebih banyak menjadi korban dalam hubungan semacam itu. Selain itu, aku ingin konsisten dengan apa yang kuyakini secara umum tentang tidak baiknya hubungan semacam itu. Karena bila aku melakukannya, meskipun sesehat dan sebaik apapun, orang akan menyamakanku dengan stigma pacaran secara umum dan tampak seolah aku mendukung dan memberi contoh perbuatan seperti itu. Bagaimana bila ada orang yang ikut-ikutan pacaran karena aku juga pacaran? Tak ingin aku seperti itu.

Maka sebagaimana telah disebut di atas, menurutku untuk menikah yang penting adalah kesiapan mental. Aku berpikir bahwa dengan siapapun orang menikah, bila mental sudah siap, maka hubungan pernikahan dapat berjalan dengan baik. Karena itu, aku berpikir bahwa untuk mencari dan menentukan dengan siapa kita akan menikah, tak perlu dengan proses yang panjang termasuk dengan hubungan pacaran. Banyak orang yang kulihat juga seperti ini: berkenalan lewat orang tua, teman, murobbi, dengan komitmen menikah dan pernikahan terjadi tak lama setelahnya. Aku salut dengan yang semacam itu dan mungkin akan seperti itulah nantinya aku mencoba. Kuharap aku dapat segera memiliki kesiapan mental, kondisi yang memungkinkan, dan ditemukan dengan seseorang yang berkenan bersama-samaku menjalani hidup dengan segala kemungkinannya. Semoga..🙂

Jurangmangu, 5 Maret 2010


0 Responses to “Tentang Pernikahan dan Hal-Hal di Sekitarnya (Suatu Pendapat Pribadi)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: