23
Feb
10

Penggunaan Uang Negara

Terhadap penggunaan uang negara dalam tugas, kadang aku merasa heran bagaimana ada orang yang begitu merasa tidak bersalah melakukan pemalsuan bukti pengeluaran untuk mendapatkan uang negara bagi kepentingannya sendiri. Memang ada berbagai macam alasan yang dikemukakan, tetapi bagiku sendiri, hal itu masih tetaplah tidak dapat diterima.

Salah satu alasan yang utama adalah bahwa uang tugas tersebut, apabila berlebih dan dikembalikan hanya akan diambil oleh orang bagian keuangan. Mereka akan melakukan pemalsuan bukti pengeluaran sehingga uang tugas tersebut tetaplah tidak akan kembali ke negara, hilang juga. Maka daripada diambil oleh orang lain, mending diambil sendiri saja. Begitu argumennya.

Di sini aku hanya berpikir, bagaimana bisa orang yang mengetahui  bahwa sesuatu itu salah, bukannya berusaha untuk tidak berbuat salah justru memilih untuk salah daripada berbuat benar karena akan menguntungkan orang lain. Jelas disadari bahwa perbuatan pemalsuan itu salah, tapi kenapa mau juga mempersalahkan diri sendiri? Bila memang negara akan tetap rugi, toh bukan kita yang membuatnya rugi. Bukan kita yang menanggung dosanya. Kenapa jadi merasa diri dirugikan? Padahal mungkin juga orang bagian keuangan tidak akan mengkorupsinya, kenapa dikorupsi duluan? Dan kenapa tidak membiarkan saja dosa itu dilakukan oleh orang lain yang penting bukan kita yang berbuat dosa? Kenapa tidak menjaga diri sendiri dan berusaha untuk berbuat benar dimulai dari diri sendiri saja?

Alasan lain yang dijadikan pendukung adalah bahwa banyak orang lain yang juga melakukannya termasuk para pejabat. Atau ada yang beralasan bahwa yang penting pengeluaran masih dalam pagu belanja tugas, sehingga penghematan (selisih pagu dengan realisasi) yang dilakukan dapat diambil untuk diri sendiri dengan pemalsuan bukti pengeluaran. Toh bagian keuangan sendiri yang mengetahui hal itu juga tidak akan mencegahnya. Selain itu, kadang juga terjadi kondisi dimana terjadi pengeluaran keperluan tugas yang memang tidak bisa dibuat bukti pengeluaran seperti laundry, taksi, makan siang, honor cleaning service, dll. Hal ini kemudian menjadi alasan pembenar pemalsuan karena bila tidak, berarti uang pribadi harus keluar untuk kepentingan tugas. Dan hal itu tentunya dihindari.

Aku hanya berpikir, kenapa tidak membiarkan saja orang lain salah dengan kemauannya sendiri dan berusaha diri sendiri tetap baik? Bukankah penghasilan yang diperoleh secara benar sudah cukup besar dibandingkan dengan banyak pekerjaan yang lain atau penghasilan orang lain? Walaupun penghematan anggaran dilakukan, pemalsuan tetaplah merupakan sesuatu yang menurutku salah. Bagiku, membuat bukti palsu apapun alasannya tetaplah tidak dapat dibenarkan. Dan bila ternyata harus mengeluarkan uang pribadi dalam tugas, kupikir itu adalah sebuah konsekuensi yang wajar. Bukankah kita sendiri sudah dibayar untuk tugas? Sedikit bagian terambil dalam tugas kupikir tidaklah masalah.

Apabila tidak mengambil uang untuk diri sendiri, biasanya ada juga yang melakukan sebuah pemborosan keuangan negara. Misal dengan mencari hotel atau akomodasi yang termahal dalam pagu yang ada. Membeli barang seperti ATK semaksimal mungkin walaupun tidak dibutuhkan hanya karena tidak mau mengembalikan ke negara yang dianggap sebagai suatu kerugian. Ada yang beralasan bahwa ini untuk menggerakan perekonomian, daripada uang menganggur di negara. Padahal menurutku, uang di negara tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan pada bagian/pos lain yang lebih membutuhkan seperti penanggulangan bencana atau pemberdayaan masyarakat. Bila ternyata anggaran kantor tidak habis atau penyerapan anggaran tidak maksimal sehingga raport-nya buruk, kupikir seharusnya itu diakui saja bahwa anggaran memang berlebih sehingga tidaklah masalah bila tahun depan anggaran dikurangi. Bukankah yang penting anggaran cukup realistis saja dan alokasi anggaran lebih optimal?

Aku hanya merasa bahwa ternyata pengendalian keuangan negara masih sangat lemah. Sulit juga untuk mengatasinya bila orang-orang yang ada di dalamnya bermental korup. Dibuat aturan seperti apapun, tetap saja bisa dicari celahnya dan tampaknya itu sudah menjadi hal yang biasa. Aku sendiri tak bisa berbuat banyak bila memang ada orang yang mencoba berbuat seperti itu. Kusadari tak ada kekuatan yang kumiliki dan bila menentang, aku hanya akan menjadi ‘musuh’ saja. Merusak hubungan kerja, sesuatu yang tidak kuharapkan karena tentunya akan menghambat untuk pekerjaan yang menjadi tugas. Akhirnya seringkali aku hanya bisa menolak dalam hati dan bila uang tersebut terpaksa kuterima, aku hanya bisa menyetor seluruhnya ke lembaga amil zakat. Aku berusaha untuk tidak mengotori diriku dengan uang yang tidak jelas dan kupikir, menghindarinya adalah lebih baik. Tapi aku juga percaya bahwa orang yang berusaha untuk bersih masih banyak di pemerintahan meskipun kadang tidak terlihat. Semoga saja keadaan pemerintahan akan bisa lebih baik sehingga negara semakin maju serta masyarakat bisa semakin makmur. Semoga. Amin.

Jurangmangu, 23 Februari 2010


1 Response to “Penggunaan Uang Negara”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: