27
Sep
09

Potensi Manusia dan Peran Rasio Terhadapnya

Manusia memiliki potensi tetapi belum tentu terealisasi menjadi kenyataan. Potensi ini tidak mudah untuk dilihat dan lebih bersifat kepercayaan. Kepercayaan terhadap adanya potensi. Kepercayaan ini berbeda-beda keadaannya dan menurut saya untuk memudahkan penggambarannya, bisa dikontraskan keadaannya pada anak yang masih kecil dan manusia yang telah dewasa dengan fokus pada perkembangan rasio.

Anak kecil belum cukup rasional sehingga tidak pernah berpikir bisa atau tidak. Anak kecil ketika akan dan berbuat sesuatu tidak banyak berpikir, cukup menjalankan saja. Hal ini akhirnya malah membuat banyak potensi yang ada pada dirinya dapat terwujud. Perbuatan yang dia lihat, dengar, rasakan, dia tiru dengan mencoba melakukan. Anak kecil mempercayai bahwa dia bisa melakukannya juga. Akhirnya dia bisa berbicara, bisa berjalan, bisa berkembang menjadi manusia dewasa. Itu mungkin adalah alasan mengapa jika sesuatu potensi dilatih sejak kecil, maka lebih mudah untuk diaktualkan. Anak kecil melihat fokus pada suatu kemungkinan sesuatu bisa dilakukan dan bukan pada kesulitannya atau ketidakmungkinannya berdasarkan keadaan dirinya.

Bagi manusia yang sudah dewasa, yang sudah berpikir rasional, muncul perbedaan dan suatu kesulitan. Manusia yang semakin rasional ternyata juga semakin membatasi dirinya. Dia dapat berpikir dan mempercayai bahwa dia bisa, tetapi juga dapat berpikir dan mempercayai bahwa dia tidak bisa. Bagi manusia dewasa yang kuat, dengan tambahan kemampuan rasionya, dia dapat terus memikirkan tentang berbagai kemungkinan seperti anak kecil di atas (bahkan lebih) dan kemudian berusaha merealisasikannya sehingga dapat terus berkembang.

Tetapi bagi manusia dewasa yang lain, rasio menjadi alat pertimbangan yang malah justru membatasi perealisasian potensi dirinya. Manusia mengkotakkan dirinya berdasarkan pertimbangan rasio, mana hal-hal yang dia bisa dan mana yang tidak bisa dan berusaha merealisasikan hanya pada yang menurutnya mungkin saja. Padahal ada kemungkinan hal yang sebenarnya dia bisa lakukan tetapi karena berdasarkan pikirannya sendiri tidak bisa, maka dia tidak menjadikannya sebagai suatu kemungkinan dan membatasi dirinya terhadap kemungkinan itu. Maka manusia benar-benar tidak bisa melakukan hal tersebut. Perkembangannya terbatasi, apa yang dipikirkan menjadi kenyataan.

Manusia tidak akan selamanya kecil dan rasio akhirnya akan berkembang dan mungkin mendominasi. Rasio, merupakan suatu anugrah Tuhan dan -sebagai pisau bermata dua-, diserahkan kepada manusia bagaimana menggunakannya. Apakah akan digunakan untuk mendukung perkembangan dirinya, mengarahkan perkembangan dirinya kepada hal yang baik, ataukah justru akan menghambat perkembangan dirinya sendiri.

27/09/08


0 Responses to “Potensi Manusia dan Peran Rasio Terhadapnya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: