13
Aug
09

Takdir dan Jodoh sebagai Takdir

Apa yang disebut takdir, tak lain juga merupakan hasil usaha dari manusia itu sendiri.
Apakah ini mengingkari kekuasaan Tuhan dalam menentukan hidup manusia?
Tuhan itu Mahatahu, tetapi Dia menunggu (kata Leo Tolstoy) adalah rumusan yang bagus.
Rumusan ini tetap mengakui kekuasaan Tuhan (yang MahaTahu) tetapi juga sekaligus mengakomodiir peluang bagi manusia untuk membuat (menentukan) bagaimana hidupnya. Bahwa Tuhan ”menunggu” perbuatan manusia..
Meskipun Tuhan tentunya tidak hanya Mahatahu, tetapi juga Mahakuasa sehingga dapat menentukan bagi manusia apa yang dikehendakiNya, Tuhan (dengan KebijaksanaanNya) memberi manusia peran untuk menentukan bagaimana jalan hidupnya sendiri.
Faktor usaha dari manusia itu sendirilah yang berpengaruh besar dalam keputusan Tuhan terhadap hasil usaha manusia tersebut, yang kemudian menjadi takdirnya, dan itu telah diketahui oleh Tuhan sebelumnya.
Ini merupakan harapan agar manusia lebih menggantungkan diri terhadap usaha sendiri dan bukannya mengharapkan saja anugerah dari Tuhan yang kemudian disebut sebagai keberuntungan atau mungkin malah kesialan.
Dan karena itulah maka manusia dapat dimintai pertanggung jawabannya kelak..

Kalau takdir manusia adalah hasil usaha manusia yang kemudian mewujud atas izin Tuhan, maka jodohpun tentunya adalah seperti itu juga. Jodoh ada di tangan Tuhan, tapi manusia perlu berusaha untuk membukanya. Permasalahan dalam mencari jodoh adalah persoalan bagaimana manusia berusaha membuat seseorang menjadi jodoh bagi dirinya. Usaha tersebut merupakan penguji untuk mengetahui keputusan Tuhan yang kemudian menjadi takdir mengenai jodoh tidaknya seseorang itu. Hal ini berarti juga bahwa persoalan jodoh adalah lebih merupakan persoalan di dalam diri manusia untuk ”bernegosiasi” dengan keadaan yang ada. Jodoh adalah hasil dari ciptaan manusia..

Jika manusia berusaha dan berhasil ”berjodoh” dengan seseorang, itu adalah hasil usaha manusia dan bila manusia gagal berjodoh dengan yang yang diharapkan, itu juga adalah hasil usaha manusia (meskipun Tuhan tetap yang mengizinkan). Begitu pula jika manusia memutuskan untuk menghindari suatu jodoh menuju jodoh yang lainnya, juga kembali merupakan hasil dari usaha manusia itu sendiri. Faktor di luar kemampuan manusia memang ada dan berpengaruh terhadap usaha yang dilakukan manusia berikut hasil usahanya. Tetapi faktor tersebut merupakan ”tantangan” yang diserahkan kepada manusia untuk ditaklukan atau dianggap sebagai ”pengarah” kemana manusia perlu fokus melakukan usahanya. Semua itu diserahkan kepada manusia sebagai pelaku utama..

Keadaan sebagai jodoh itu ternyata juga masih perlu dipertahankan dengan perjuangan karena banyak yang awalnya sudah saling menganggap sebagai jodoh, karena kemudian menghadapi masalah, berubah keputusan bahwa mereka ternyata bukanlah jodoh yang sebenarnya. Hal ini misalnya berwujud dalam pemutusan hubungan atau perceraian. Padahal putus atau tidaknya suatu hubungan ini berasal dari keputusan manusia itu sendiri. Di sini tampak peran manusia sebagai pembuat keputusan yang kemudian menjadi takdir bagi dirinya sendiri. Komitmen untuk tetap berada dalam ”jodoh” terkait kepada kemampuan (ability), usaha, dan keputusan manusia sehingga yang harus bertanggung jawab atas bertahan atau putusnya suatu hubungan jodoh adalah manusia sebagai pelaku itu sendiri.

Kemudian, apabila dengan suatu pertimbangan memang diputuskan bahwa suatu hubungan memang perlu diakhiri (perceraian) maka itu juga adalah masih dalam lingkup usaha manusia tersebut dalam mencari ”jodoh” yang lain (yang dianggapnya ada di luar), meskipun bisa juga hubungan tersebut tetap dijaga sebagai ”jodoh” pula. Putus atau tidak, bersama dengan pasangan yang lama ataupun yang baru, sama-sama akhirnya dapat disebut sebagai jodoh dan itu adalah takdir baginya, yang ditentukannya sendiri. Semua pilihan dan keputusan adalah sah-sah saja.

Jadi, jodoh adalah suatu hubungan yang memang dibuat dan diputuskan sendiri oleh manusia dan bukannya ada di luar sana sehingga dapat begitu saja dijadikan ”kambing hitam” atas sesuatu yang telah dilakukannya sendiri.

13/08/08


1 Response to “Takdir dan Jodoh sebagai Takdir”


  1. 1 dina
    January 20, 2010 at 5:15 pm

    masalah jodo lagi pak?
    hahaha
    sepertina dimana2 saya menemukan yang seperti ini
    smangaaadh!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: