09
Aug
09

Apa, Mengapa, dan Bagaimana itu Pacaran (suatu pendapat)

Suatu hubungan yang menarik, tak hanya untuk dialami tetapi juga dikaji adalah hubungan pacaran. Tentunya hampir setiap orang dewasa mengetahui hubungan ini dan mungkin malah pernah mengalaminya. Terlepas dari pro kontra tentang hubungan pacaran tersebut, sesuatu yang menarik juga untuk dipikirkan adalah tentang “bagaimana” hubungan semacam ini bisa terjadi dan boleh dikatakan bisa membudaya.

Ada apa dengan manusia sehingga merasa perlu untuk menjalani hubungan semacam itu? Kemudian bagaimana hubungan pacaran berjalan secara umum? Disini adalah pendapat pribadi yang tentunya dapat diperdebatkan.

Hubungan pacaran adalah hubungan antarlawan jenis (meskipun akhir2 ini ada juga yang sejenis, hihihi…) yang masing2 pelaku saling mencintai, telah mengungkapkannya, dan bersepakat untuk menjalani suatu bentuk hubungan (bentuknya berbeda-beda sesuai kesepakatan) tetapi tidak (belum) sampai pada hubungan pernikahan. Dari pengertian ini tampak bahwa hubungan pacaran terletak di tengah-tengah antara hubungan pertemanan/persahabatan yang normal alias biasa dan hubungan pernikahan yang resmi. Orang yang pacaran tidak menjalani hubungan selayaknya teman biasa (lebih dari sekedar teman), tetapi juga tidak boleh sampai melakukan selayaknya hubungan pernikahan (kalau iya, wah bisa M.B.A. tuh).

Posisi bentuk hubungan yang di tengah-tengah (bukan ini, tetapi juga bukan itu) membuat hubungan pacaran sulit untuk ditentukan batasan bentuknya. Malah dapat dikatakan bahwa bentuk hubungan pacaran bersifat “cair” karena sifatnya kesepakatan berdua saja. Bukankah pacaran itu suka sama suka dan perbuatan yang dapat dilakukan didalamnyapun bersifat kesepakatan suka sama suka atau setuju sama setuju?

Jelas hubungan yang terjadi dalam pacaran berbeda-beda antara tiap orang atau tiap “pasangan” yang ada. Tidak dapat digeneralisasi semuanya sama saja. Ini juga karena “kecairannya” sehingga bisa menyesuaikan dengan pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya. Misal, jika pribadi yang terlibat di dalamnya adalah pribadi-pribadi yang “agamis”, maka bentuk hubungan pacaran tersebut juga bersifat “agamis” (seperti apa itu?) dan bila pribadi2 yang terlibat di dalamnya adalah pribadi2 yang bebas, maka bentuk hubungan yang berlangsung di dalamnya juga bersifat bebas (seperti apa pula itu?). Mungkin karena sifat “kecairan” hubungan pacaran sehingga berbahaya (beresiko tinggi) inilah yang membuat beberapa pihak tidak setuju dan melarangnya.

Kalau tentang mengapa orang menjalin hubungan pacaran, pertama mungkin adalah terkait dengan kodrat manusia yang memiliki kesadaran diri, merasakan keterpisahan (keterasingan) sehingga membutuhkan orang lain dalam kebersamaan. Kedua adalah kodrat manusia yang diciptakan berpasang-pasangan dan untuk memiliki ketertarikan terhadap lawan jenisnya (juga sesama jenis?). Kedua keadaan ini sebenarnya dapat diatasi dengan beberapa bentuk hubungan yang bukan pacaran, yakni berupa hubungan kebersamaan yang disebut pertemanan/persahabatan dan pernikahan.

Hubungan pertemanan/persahabatan adalah solusi pertama mengatasi kedua faktor kodrati yang dimiliki manusia di atas. Tetapi hubungan ini memiliki kekurangan yakni tidak dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Hubungan pertemanan/persahabatan dirasakan hanya bersifat luaran dan kurang mendalam sehingga kurang memuaskan. Terlebih dalam hubungan pertemanan, banyak pihak yang terlibat (temen kan banyak), perhatian tidak sepenuhnya diberikan (terbagi-bagi), “dia” tidak hanya untuk diri “aku” sendiri. Orang menginginkan dan malah membutuhkan yang lebih dari ini.

Kemudian bentuk hubungan yang kedua adalah hubungan pernikahan. Hubungan ini merupakan hubungan yang umum dan diakui baik oleh Agama maupun Bangsa dan Negara (Masyarakat). Tetapi ternyata untuk melakukan hubungan yang diakui resmi ini, terdapat banyak syarat dan tidak mudah dipenuhi. Misalnya soal kemampuan memberi nafkah hidup (sudah pingin tapi belum bekerja gimana?) dan perlunya komitmen (tanggung jawab) secara penuh (ini mengerikan bagi yang belum memiliki kesiapan mental). Belum lagi hubungan ini juga akan melibatkan banyak pihak baik itu adalah antarkeluarga maupun masyarakat, yang tentunya memberi kesulitan tambahan bagi manusia yang hendak menikah.

Mengingat juga bahwa kebutuhan orang untuk mengatasi kedua faktor kodrati di atas kian membesar seiring dengan bertambahnya usia, menimbang berbagai hal di lingkungan yang semakin membujuk orang untuk cepat-cepat memenuhi dahaga kebutuhan akan kebersamaan antarlawan jenis tersebut, mengingat hal-hal yang membangkitkan hawa nafsu juga bertebaran dimana-mana tanpa kontrol masyarakat/negara, memperhatikan bahwa pertemanan adalah tidak cukup dan pernikahan itu sulit, maka orang mencari dan memutuskan untuk menempuh “jalan alternatif” di tengah kedua hubungan tersebut yang disebut sebagai hubungan pacaran (nah!).

Mungkin alasannya sebagai pemenuhan dorongan manusiawi. Mungkin alasannya untuk persiapan (mencari calon yang cocok) menuju pernikahan yang sebenarnya. Mungkin alasannya untuk pendewasaan. Atau alasan-alasan lain dapat digunakan sebagai dukungan atas usaha pemenuhan kebutuhan manusiawi di atas. Tetapi pada dasarnya kedua faktor di ataslah yang menjadi dasarnya dan itu adalah hal yang manusiawi. Karena manusia memang diciptakan oleh Tuhan semacam itu, maka tepatlah kalau Tuhan juga memberi jalan untuk memenuhi kebutuhan manusiawi tersebut dengan jalan yang baik dan jalan yang umum (halal) diberikan (oleh ajaran agama) adalah berupa pernikahan.

Tetapi bagaimana bila sulit dan belum bisa dilakukan? Yah, mungkin lebih baik diserahkan kepada pribadi masing-masing saja…

09/08/08


2 Responses to “Apa, Mengapa, dan Bagaimana itu Pacaran (suatu pendapat)”


  1. 1 novi tutut
    May 14, 2009 at 1:04 pm

    fiuuh, akhirnya slesei juga saya membaca blog anda ini…
    1. ini topik yang ga akan pernah slesai diperdebatkan “pacaran” dan sulit dipahami oleh kebanyakan orang
    2. di blog saya juga ada topik mengenai hal ini, mungkin ini salah satu referensi bagi saya
    3. alangkah indahnya jika semua orang tau dan pahami artinya, walopun udah sering dan berkali-kali mencoba untuk menjelaskan…banyak yang mencari pembenaran dan bukan kebenaran dari suatu hal, palagi hal yang sudah membudaya ini..
    4. mungkin harus diberikan deskripsi ringan yang bisa menyelesaikan masalah “pacaran”, yang sudah mendarah daging di masyarakat..
    5. cukup sekian komen saya pusing mau komen palagi…

  2. April 19, 2010 at 8:00 am

    Klo pacaran mah sih di bawa asik aja, jangan terlalu pake hati. Soalnya klo ntar putus di tengah jalan kita ga bakal terlalu sakit hati.
    Tapi pemaparan disini sangat bijak. Dewasa banget!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: